MTsN 1 Pringsewu (Humas)_ Pada hari ketujuh pelaksanaan kajian Ramadhan (Senin/2/3/2026), suasana Masjid kembali dipenuhi semangat para siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Pemateri, Ustadz Ali Fauzi, S.H.I., M.H., melanjutkan pembacaan kitab Durratun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakiri Al Khubawi. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengulas keutamaan shalat tarawih atau qiyamul lail sebagai amalan istimewa di bulan suci.
Mengawali uraiannya, Ustadz Ali menegaskan bahwa di bulan Ramadhan, “siang disuruh siyam, malam disuruh qiyam.” Artinya, ibadah seorang mukmin tidak berhenti saat matahari terbenam, melainkan dilanjutkan dengan menghidupkan malam melalui shalat tarawih, witir, dan doa. Shalat tarawih bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan meraih ampunan.
Beliau menjelaskan bahwa pada malam pertama, dosa-dosa orang beriman diampuni seperti bayi yang baru dilahirkan. Malam kedua, ampunan juga diberikan kepada kedua orang tuanya apabila mereka mukmin. Malam ketiga, malaikat memohonkan ampun bagi yang melaksanakannya. Malam keempat, pahala yang diperoleh seakan-akan membaca kitab-kitab Allah seperti Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an.
Memasuki malam kelima, Allah memberikan pahala seperti orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha. Malam keenam, ia mendapatkan pahala thawaf di Baitul Ma’mur. Malam ketujuh, seakan-akan ia hidup di zaman Nabi Musa dan menolong beliau menghadapi Fir’aun. Malam kedelapan, Allah memberikan karunia seperti yang diberikan kepada Nabi Ibrahim. Malam kesembilan, ibadahnya sebanding dengan ibadah seorang nabi. Malam kesepuluh, Allah melapangkan kebaikan dunia dan akhirat. Hingga malam kesebelas, ia akan keluar dari dosa seperti hari dilahirkan oleh ibunya.
Kajian ini menegaskan bahwa tarawih bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan jalan meraih rahmat, ampunan, dan derajat mulia di sisi Allah SWT. (Sul)
Tinggalkan Komentar