MTsN 1 Pringsewu (Humas)_ Pada hari ke-9 (Rabu, 4/3/2026) pelaksanaan kajian Ramadhan, Ustadz Ali Fauzi, S.H.I., M.H. kembali membacakan kitab Durratun Nasihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakiri Al Khubawi di hadapan seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Pada kesempatan tersebut, beliau menyampaikan bab tentang fadilah menuntut ilmu dengan penuh semangat dan keteduhan.
Mengawali uraiannya, Ustadz Ali membacakan sebuah hadits Rasulullah ﷺ:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Beliau menjelaskan bahwa orang alim memiliki kedudukan yang sangat mulia. Semua makhluk, baik yang di langit maupun di bumi, bahkan ikan-ikan di lautan, mendoakan kebaikan bagi orang yang berilmu. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang alim membawa keberkahan bagi seluruh alam.
Ulama juga disebut sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya). Para nabi tidak mewariskan harta, melainkan ilmu. Maka siapa yang mengambil ilmu, sejatinya ia telah mengambil bagian yang sangat besar dari warisan kenabian.
Dalam kitab tersebut dijelaskan pula bahwa mempelajari satu bab dari ayat Al-Qur’an lebih utama daripada shalat 100 rakaat. Mempelajari satu bab ilmu baik ilmu itu sudah diamalkan maupun belum lebih baik dari pada shalat 1000 rakaat. Selanjutnya belajar 1 bab ilmu kemudian ia mengajarkannya kepada orang lain memperoleh pahala 70 nabi.
Terkait dengan orang yang berilmu atau alim, ustadz ali menjelaskan bahwa; duduk bersama orang alim pun dinilai sebagai ibadah, karena dari merekalah terpancar cahaya ilmu. Orang berilmu adalah cahaya umat di dunia dan akhirat; dengan ilmu, umat terarah, dan dengan ilmu pula manusia selamat menuju kebahagiaan abadi. (Sul)
Tinggalkan Komentar